Berbagi Kabar & Info Disini - Follow Twitter @spiritualz_ dan @kabaena_

INFO UNTUK ANDA

Forum ini ada di Facebook

Share via Twitter

Follow Me : @kabaena_

Image hosted by servimg.com

Instagram Kabaena

Instagram

Kabaena Mailing List

Masukan Email Kamu:

Ngobrol Via Twitter

Latest topics

Your Space

LIVE STREAMING TV

Live Streaming

Online Radio Live

Radio Online

    Awas! Era Media Sosial Banyak Menghadirkan Jebakan Ilusi Bagi Para Mamah Muda

    Share
    avatar
    kabaena

    Jumlah posting : 291
    Join date : 19.08.11
    Age : 32

    Awas! Era Media Sosial Banyak Menghadirkan Jebakan Ilusi Bagi Para Mamah Muda

    Post  kabaena on Fri Sep 16, 2016 12:33 pm


    Seolah gula-gula, kemasan kehidupan glamor dan serba indah ini menjadi etalase menggoda bagi para mamah muda untuk mencicipi gaya hidup serupa. Apalagi di era teknologi mobile dan internet seperti sekarang, paparan referensi gaya hidup bisa diakses semudah dan secepat menggerakkan ujung jari.

    “Di era kekinian, internet dan media sosial menjadi simulakra, yaitu instrumen yang bekerja menciptakan imajinasi dan hal-hal yang sifatnya fantasi,” ungkap Ade Yulfianto, pengamat sosial dari Sociology Research Center Universitas Gadjah Mada.

    Ibu-ibu muda ini menjadikan media sosial idola mereka sebagai rujukan gaya hidup. Mereka menyimak warna lipstik yang dipakai Dian Sastro dan memantau update tas baru yang ditenteng oleh Jamie Chua, ibu muda dua anak, pemilik koleksi tas Hermes termahal di dunia.

    “Ada replikasi simbol dalam dirinya ketika para mamah muda ini bisa memakai dan memiliki apa yang dipakai dan dimiliki oleh idolanya. Seolah-olah mereka mendapat energi sang idola, dan secara instan memberikan sensasi terdongkraknya status sosial mereka,” lanjut Ade. Bisa jadi mereka tidak secantik Dian Sastro, atau tidak sekaya Jamie Chua, tapi ada kepuasan tersendiri yang terwujud melalui replikasi simbol ini.

    Seperti sudah jatuh tertimpa tangga, dampak terparah hidup terus-menerus dalam hiper-realitas akan membuat wanita tertindas dua kali. Setelah kerja keras berakrobat menyeimbangkan tuntutan di dunia personal, profesional, dan rumah tangga, ia masih harus mengalami penindasan simbolis. Ia merasa harus memiliki tas, lipstik, gadget, sepatu dengan merek tertentu, atau menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah dengan embel-embel nasional plus atau internasional di belakangnya.

    Masalah menjadi runyam ketika euforia media sosial yang bercampur baur dengan tuntutan gaya hidup ini berada di luar jangkauan kemampuan si mamah muda. Alhasil, tak sedikit mama muda yang memaksakan diri demi mengatrol citra diri. Mereka bahkan berlomba-lomba untuk menjadi yang paling kekinian dan hits di tengah komunitasnya. Seperti yang juga pernah dijumpai oleh Joy Roesma (37), seorang penulis.

    “Karena butuh pengakuan dan ingin terlihat lebih spektakuler, beberapa orang sampai harus berbohong dan berhalusinasi,” cerita Joy. Pernah, seseorang yang sebenarnya naik pesawat economy class saat pergi liburan, lalu posting seakan-akan dirinya naik business atau first class. Tapi, akhirnya ketahuan karena kebetulan ada teman lain yang satu pesawat dengannya.

    Ada juga yang hobi posting foto, bisa dua kali sehari makan menu berkelas di restoran high end, seperti truffle, foie gras, caviar dan uni atau bulu babi laut yang harga sekilonya mencapai 500 dolar AS atau sekitar Rp6,6 juta. Tapi, karena kurang riset, dia mengunggah kolase makanannya tepat ketika restoran bergengsi itu sedang tutup karena libur!

    “Bukannya mendapat pengakuan, dia malah jadi bahan tertawaan dan enggak dipercaya lagi dia makan di restoran mewah. Padahal, mungkin memang sesekali dia pernah makan di sana,” cerita Joy, tak habis pikir. Selidik punya selidik, rupanya si mamah muda yang haus pengakuan ini menyimpan posting-an orang lain untuk diedit sendiri menjadi kolase dan diakui sebagai fotonya.

    Ajang pamer para mamah muda di Instagram ini memang sering membuat orang gerah dan terintimidasi. Entah itu memamerkan interior rumahnya, liburan ke luar negeri, atau betapa lucu dan berprestasinya anak-anak mereka. Intinya, ingin menunjukkan betapa hebatnya mereka sebagai supermom.

    “Gara-gara hal itu saya suka merasa insecure dan berpikir, ‘Ok, I’m not doing good enough compare to others,’” ungkap Santi. Alhasil, ia pun memacu diri untuk berusaha lebih keras menjadi sosok sempurna seperti yang banyak disajikan di media sosial. “Entah bagaimana, apa yang dipamerkan di media sosial itu terlihat begitu effortless. Membuat mamah-mamah lain, termasuk saya, terkagum-kagum,” lanjut Santi, yang mengaku sering terpancing melihat kesempurnaan itu.

    Beberapa kali ia mencoba menjadi sosok ibu sempurna dengan membuat bento-bento lucu sebagai menu sarapan atau bekal sekolah putrinya yang baru berusia 4 tahun. Tak lupa, ia pun memamerkannya di Instagram miliknya. Kelinci lucu dan bentuk-bentuk kartun Jepang lainnya, sukses panen jempol dan komentar penuh kekaguman.

    Namun, tidak ada yang tahu, di balik bento-bento lucu itu ia harus pontang-panting hingga dapurnya berubah menjadi ‘zona perang’. Bahkan, Santi harus menelan kenyataan pahit saat bento yang dibuat susah payah itu tidak disentuh putrinya!

    Bom Waktu
    Psikolog dari Universitas Tarumanegara, Roslina Verauli mengatakan bahwa pada dasarnya tiap orang memiliki kebutuhan berdiferensiasi, atau menjadi berbeda dengan individu lainnya. Fakta ini lantas bersinggungan dengan konsumerisme dan teknologi internet yang menimbulkan perubahan supercepat di kehidupan sosial individu. Dalam perjalanannya, berbagai tekanan psikologis mulai muncul.

    Menurut Roslina, tidak sedikit orang kemudian terjebak dalam reality by proxy, yaitu ketika realitas diwakilkan oleh segala sesuatu di luar diri individu yang sebenarnya semu, misalnya brand atau gaya hidup sekelompok mamah muda yang populer. Mereka menghidupi kehidupan orang lain, hingga sulit membedakan mana yang nyata dan mana yang maya. Persis seperti yang diceritakan oleh Joy dan apa yang dialami oleh Santi.

    Seseorang pun merasa akan terlihat keren jika hang out di restoran tertentu, dan memakai barang-barang dengan brand papan atas. “Mereka akhirnya terdorong menjadi konsumtif dan menampilkan citra-citra yang semu sebagai ajang merayakan kemandirian. Mereka menghayati realitas di tingkat hiper-realitas,” ujar Roslina.

    Padahal, di usia mereka, mamah muda masih memiliki banyak kegelisahan. Seperti yang tercermin dari hasil survei femina (31 Agustus - 6 September 2016) terhadap 100 responden online. Tiga sumber terbesar kegalauan responden adalah biaya pendidikan anak yang makin tinggi (71%), ketakutan tidak memiliki investasi yang cukup (27%), dan tidak bisa mengimbangi tuntutan gaya hidup (13%).

    Menurut Roslina, pertentangan antara kebutuhan untuk eksis, kondisi keuangan yang pas-pasan, dan kompleksitas relasi dalam berumah tangga pada akhirnya akan membuat mamah muda mengalami stres. “Dalam tingkatan lanjut, stres ini bisa menimbulkan berbagai keluhan fisik atau psikosomatis, dan bahkan bisa berujung pada depresi,” tegas Roslina. Mamah muda juga rentan menjadi objek pasif industri. Melalui gagasan hiper-realitas, mereka terperangkap dalam konsumerisme tingkat tinggi yang menyesatkan!

    Pengamat gaya hidup dan pakar marketing Yuswohady menyikapi gejala di atas sebagai dampak logis kemunculan media sosial dan fenomena kelas menengah yang kurang matang. Kalau dahulu orang harus membayar mahal atau harus punya prestasi tertentu untuk masuk televisi, atau koran dan majalah, maka dengan adanya media sosial, segalanya tersedia secara gratis! “Tiap orang memiliki medianya sendiri dan menjadi selebritas bagi audiensi atau komunitasnya. Sementara itu, mamah muda memiliki kebutuhan besar untuk tampil,” ungkap Yuswohady, pengamat gaya hidup & pakar marketing.

    Kecenderungan untuk menampilkan citra diri melalui gaya hidup dan kekayaan ini, menurut Yuswohady, akan menjadi fenomena yang menguat, tidak hanya menimpa mamah muda, tapi juga semua orang yang mengalami krisis identitas kelas menengah. “Mereka belum cukup kaya, tapi ingin masuk ke dalam status sosial atas,” ungkap Yuswohady. Fenomena gaya hidup hedon mamah muda juga bisa dipahami dengan melihat bahwa mereka sedang dalam periode peralihan. “Perilaku ini menjadi bagian dari pencarian identitas baru, dari seorang lajang yang kemudian menjadi istri dan ibu,” ujar Yuswo.

    Mereka saling berlomba-lomba untuk menampilkan diri sesuai standar terbaik. Bukan yang sesuai dengan kondisi pribadinya, tapi yang menjadi kesepakatan dalam komunitasnya. “Apa yang mereka konsumsi menjadi simbolisasi mereka,” lanjut Yuswo.

    Baca juga: Fenomena Cucu Diasuh Nenek, Alasan Pragmatis Warga Perkotaan

    Coolness menjadi kata kunci dalam pencitraan. Komunitas di media sosial menjadi referensinya. Sesuatu akan dikatakan cool saat sesuatu itu memiliki nilai di atas rata-rata. Kalau hanya pamer gadget biasa, tentu tidak akan menarik untuk dipamerkan. “Harus ada tingkat kesulitan tertentu untuk mendapatkannya. Dan ukuran kesulitan ini adalah uang,” ungkap Yuswo. Makin mahal, makin bergengsi.

    Latar belakang ini yang kemudian banyak menjebak seseorang dalam gaya hidup hedon. Siapa yang bisa berada di posisi tertinggi, akan dikagumi sebagai role model atau leader. Pergerakan yang dinamis ini akan mendorong mereka untuk mencapai yang lebih tinggi. Dari smartphone merek Samsung, naik ke Apple, dan begitu seterusnya. “Sebab, jika apa yang dipandang cool sudah menjadi milik semua orang, maka sesuatu itu tidak lagi cool. Standar harus dinaikkan, dan untuk naik, lagi-lagi ukurannya adalah uang,” ujar Yuswo.

    Kondisi ini, menurut Yuswo, akan menjebak seseorang dalam ‘hedonic treadmill’. Dalam kamus psikologi keuangan, kondisi ini menggambarkan perlombaan mengejar kepuasan yang tak berujung. Seperti berjalan di atas treadmill, begitu terbiasa dengan kecepatan tertentu rasanya seperti kembali ke nol lagi, sehingga ia akan menaikkan level, dan terus begitu. Di saat yang sama, sebenarnya orang tersebut sedang berjalan di tempat.
    “Kepuasan seseorang saat memiliki sesuatu hanya berusia tak lebih dari tiga bulan saja. Setelah itu, ia akan mulai kehilangan rasa dan sensasi terhadapnya. Di saat inilah ia mulai terjebak dalam siklus tak berujung untuk mencari yang lebih dan lebih lagi, dan ini jelas membutuhkan biaya,” jelas Yuswo.

    Kalau orang tersebut mampu, tentu tidak jadi soal. Tapi masalahnya, Yuswo mengamati, hobi pamer kehidupan hedon ini kebanyakan justru dilakukan oleh mereka yang berasal dari kelas menengah ke bawah. Mengambil akses keuangan melalui penggunaan kartu kredit yang tidak bijak, mereka mulai gali lubang tutup lubang, memaksakan diri untuk membawa kehidupan hiper-realitasnya ke keseharian mereka. “Cara hidup seperti ini yang membuat negara-negara dengan jumlah kaum menengah tinggi mengalami kebangkrutan,” lanjut Yuswo. (f)

    Naomi Jayalaksana
    ~femina.co.id
    .

      Waktu sekarang Sat Jan 20, 2018 3:19 am