Berbagi Kabar & Info Disini - Follow Twitter @spiritualz_ dan @kabaena_

INFO UNTUK ANDA

Forum ini ada di Facebook

Share via Twitter

Follow Me : @kabaena_

Image hosted by servimg.com

Instagram Kabaena

Instagram

Kabaena Mailing List

Masukan Email Kamu:

Ngobrol Via Twitter

Latest topics

» 4 Olahraga ekstrem ini bisa kamu lakukan di Indonesia
Thu Apr 12, 2018 11:55 am by kabaena

» HDD External New
Wed Apr 04, 2018 2:59 am by dodolan

» Libero dalam Voli
Tue Apr 03, 2018 2:43 pm by kabaena

» Pisang Goroho Digoreng 'Telanjang', Aduh Enaknya!
Sat Mar 17, 2018 12:45 pm by nic

» Menolak Hadiah Rp 399 Juta dari Easy Shopping
Mon Mar 12, 2018 10:12 am by vani

» Merancang perjalanan - Itinerary
Fri Mar 09, 2018 1:44 pm by vani

»  Startup ini Bangun Rumah Menggunakan Printer 3 Dimensi!
Sun Feb 25, 2018 2:52 pm by wulele_waru

» Agen Madu Hitam Pahit Premium Bandung Murah
Thu Feb 22, 2018 7:10 pm by riyadiyo

» Mengapa kelelawar tidur terbalik?
Mon Feb 19, 2018 10:05 am by ganz

Your Space

LIVE STREAMING TV

Live Streaming

Online Radio Live

Radio Online

    Misteri Warga Pigmy di Dusun Rampasasa NTT

    Share
    avatar
    wulele_waru

    Jumlah posting : 190
    Join date : 31.01.12

    Misteri Warga Pigmy di Dusun Rampasasa NTT

    Post  wulele_waru on Sun Aug 16, 2015 5:46 pm


    Dua warga asli (tengah) Dusun Rampasasa, Kabupaten Manggarai yang tergolong suku pygmy dengan rata-rata tinggi badan kurang dari 150 cm. (Willy Grasias/ Beritasatu.com)

    Sebuah dusun terpencil di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, dihuni oleh penduduk asli yang sebagian besar memiliki tinggi badan kurang dari 150 cm, yang sampai sekarang belum ditemukan penjelasan ilmiah yang pasti apa penyebabnya.

    Dusun Rampasasa tepatnya berada di Desa Waemulu Kecamatan Wae Rii, Pulau Flores. Dalam terminologi ilmiah, para anggota suatu komunitas masyarakat yang para pria dewasanya secara rata-rata memiliki tinggi badan 150 cm atau kurang disebut sebagai suku pygmy.

    Hal ini juga diamini oleh hasil penelitian dari Tim Antropologi Ragawi Universitas Gadjah Mada yang dipimpin oleh Profesor Teuku Jacob, yang menyatakan bahwa 80 persen warga Rampasasa tergolong sebagai individu pigmy atau katai.

    Tinggi badan warga Rampasasa pada umumnya adalah sekitar 145 cm untuk laki-laki dan 135 cm untuk perempuan. Namun walaupun badan mereka tergolong pendek, mereka tetap terlihat sebagai orang biasa karena mempunyai berat badan dan proporsi tubuh yang seimbang. Jika mereka difoto tanpa menggunakan pembanding, maka mereka akan nampak seperti orang berukuran biasa.

    Faktor Genetik
    Hingga sekarang, belum ada yang tahu penyebab pasti kenapa penduduk Rampasasa tergolong pygmy. Menurut salah satu tetua dusun bernama Eduardus Dada, 65 tahun, kelainan tinggi badan warga Rampasasa ini besar kemungkinannya disebabkan oleh faktor keturunan, dari perkawinan antar orang Manggarai.

    Saat ditemui Beritasatu.com di Rampasasa akhir pekan kemarin, Eduardus juga berkisah bahwa warga asli Rampasasa ada kaitannya dengan manusia Liang Bua yang sering disebut dengan Reba Ruek.

    Reba artinya gagah perkasa, sedangkan Ruek berarti kecil. Menurut dia, si gagah perkasa yang kecil tubuhnya dari Liang Bua sempat menguasai seluruh wilayah Manggarai. Dengan demikian hampir di setiap dusun di Manggarai terdapat orang pygmy.

    "Walau demikian, belum ada studi yang komprehensif untuk membuktikan teori ini," imbuh Eduardus.

    Sebagian besar penduduk Rampasasa bermata pencaharian sebagai petani padi, ubi, dan buah-buahan untuk dikonsumsi sendiri atau dijual ke kota Ruteng, ibu kota Kabupaten Manggarai.

    Liang Bua
    Tentang Liang Bua sendiri, sampai sekarang masih ada situs gua yang terletak di daerah perbukitan kapur di wilayah Manggarai. Nama Liang Bua ini dalam bahasa setempat punya makna sebagai “gua yang dingin“ dan secara administratif masuk dalam wilayah desa Liang Bua Kecamatan Rahong Utara Kabupaten Manggarai.

    Letaknya sekitar 14 km di sebelah utara kota Ruteng dengan ketinggian lebih kurang 500 meter di atas permukaan laut.

    Situs gua tersebut memiliki ukuran panjang lebih kurang 50 meter, lebar lebih kurang 40 meter dan tinggi lebih kurang 25 meter. Lokasinya sekitar 200 meter saja dari pertemuan dua sungai Wae Racang dan Wae Mulu (Wae berarti sungai dalam Bahasa Manggarai).

    Dilihat dari kondisi fisiknya, gua ini layak sebagai tempat tinggal di masa lalu. Permukaan lantai gua relatif datar dan cukup luas, sirkulasi udara sangat baik karena mulut gua lebar dan beratap tinggi, serta mendapat sinar matahari yang cukup sepanjang musim karena mulut gua menghadap ke timur laut.

    Disamping itu karena dekat dengan daerah aliran sungai, manusia penghuninya memiliki akses ke sumber daya lingkungan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

    Perjalanan dari Ruteng menuju Liang Bua ini melalui dusun Rampasasa.

    Ada dugaan bahwa ukuran tubuh warga Rampasasa memiliki korelasi dengan ditemukannya fosil manusia purba Homo Floresiensis di Gua Liang Bua yang memang merupakan spesies katai.

    Berdasarkan data rangka, tinggi badan rata-rata Homo Floresiensi hanya sekitar 100 cm sampai 120 cm. Jarak gua tersebut dengan Dusun Rampasasa hanya sekitar 1 kilometer.

    Warisan Global
    Kehadiran suku pygmy juga ditemukan di banyak negara, khususnya di kawasan Afrika Tengah. Jika definisi pygmy adalah tinggi badan 155 cm untuk pria, maka kehadiran kelompok ini juga ada pada penduduk asli Australia, lalu juga kelompok di Malaysia, Papua Nugini, Bolivia dan Brasil.

    Di Filipina, suku pygmy disebut sebagai Suku Aeta yang mendiami wilayah pegunungan di pinggiran teluk Subic, yang dulu terkenal sebagai pangkalan militer Amerika Serikat.

    Oleh pemerintah setempat, Suku Aeta ini diberdayakan menjadi atraksi turis termasuk cara hidup mereka seperti membuat api tanpa geretan dan masakan nasi bambu. Mereka juga menghibur turis dengan tarian tradisional diiringi musik gitar.


      Waktu sekarang Tue Apr 24, 2018 4:35 pm