Berbagi Kabar & Info Disini - Follow Twitter @spiritualz_ dan @kabaena_

INFO UNTUK ANDA

Forum ini ada di Facebook

Share via Twitter

Follow Me : @kabaena_

Image hosted by servimg.com

Instagram Kabaena

Instagram

Kabaena Mailing List

Masukan Email Kamu:

Ngobrol Via Twitter

Latest topics

Your Space

LIVE STREAMING TV

Live Streaming

Online Radio Live

Radio Online

    Pelaku Penghilangan 13 Warga Dan TNI Merah

    Share
    avatar
    kabaena

    Jumlah posting : 291
    Join date : 19.08.11
    Age : 32

    Pelaku Penghilangan 13 Warga Dan TNI Merah

    Post  kabaena on Wed Jun 11, 2014 12:07 pm


    LB Moerdani

    Siapa yang paling sakit hati dan mendendam dengan terjadinya perubahan sikap politik Pak Harto dan Keluarga Cendana terhadap Islam ?

    Mereka adalah Jenderal Leonardus Benjamin Moerdani atau Benny Moerdani dan kelompoknya, yang dikenal dengan sebutan TNI Merah.

    Kemarahan Benny Moerdani dan kelompoknya makin memuncak ketika Pak Harto memilih Jenderal Try Soetrisno sebagai wakil presiden pada tahun 1993. Keputusan Pak Harto mengangkat Try Soetrisno sebagai wakilnya, menyakiti hati Moerdani yang semula berharap besar dapat dipilih Pak Harto sebagai wakil presiden, setelah dia pensiun dari jabatan menteri pertahanan tahun 1988,

    Benny Moerdani menilai Try Soetrisno bukan pilihan yang tepat sebagai wakil presiden, apalagi pada saat itu berkembang opini bahwa periode 1993 – 1998 adalah periode terakhir presiden Suharto dan posisi wapres menjadi sangat strategis bilamana presiden mundur di tengah jalan atau tidak bersedia lagi dipilih sebagai presiden.

    Benny mengharapkan dirinya dapat dipilih Pak Harto sebagai wapres dan bukan Try Soetrisno yang dinilainya bukan prajurit tempur sejati karena berasal dari kesatuan Zeni.

    Kemarahan LB Moerdani terhadap Pak Harto merupakan kombinasi dari perasaan tersingkirkan, penunjukan Try Soetrisno sebagai wapres, kemesraan Pak Harto terhadap umat Islam dan restu Pak Harto kepada Prabowo Subianto – musuh besar Benny Moerdani – untuk leluasa mewarnai internal TNI saat itu.

    Try Sutrisno memang bukan prajurit TNI berlatar belakang intelijen dan infantri. Namun, keislamannya yang kuat, loyalitasnya yang tidak diragukan, serta keluarganya yang sederhana, merupakan faktor utama bagi Pak harto dalam memutuskan sikapnya. Try Soetrisno juga merupakan mertua dari Jenderal Ryamizard Ryacudu, seorang prajurit saptamargais, pancasilais dan nasionalis sejati.

    Pada tahun 1996 – 1998, Pak Harto dikelilingi jenderal – jenderal HIJAU (islam) yang menjadi petinggi TNI : Faisal Tanjung (Pangab) Hartono (Kasad) Wiranto, Prabowo, Sjafrie Syamsudin, Sudi Silalahi, Kivlan Zen, Ryamizard Ryacudu dan seterusnya.

    Namun, setelah selama 24 tahun Indonesia dan TNI dikuasai dan dikendalikan elit Katolik dan Kejawen, perubahaan sikap politik Pak Harto dan keluarga Cendana dianggap meruntuhkan hegemoni kekuasaan dan ekonomi Katolik di Indonesia. Sebagian di antara mereka dapat menerima kenyataan dan perubahaan sosial politik dan ekonomi Indonesia itu, dengan alasan memang demikianlah seharusnya yang terjadi.

    Tetapi, sebagian oknum elit politik dan militer non muslim menganggap kondisi tersebut sebagai ancaman dan harus dihentikan, dengan segala cara. Termasuk dengan cara menjalankan operasi klandestein dan intelijen untuk mengadudomba dan memfitnah antar kekuatan dan unsur umat Islam Indonesia, diantaranya sangat patut diduga melalui penghilangan 13 warga negara pada 1997-1998 dan kerusuhan Mei 1998, yang sangat kuat bukti dan petunjuknya bahwa dua peristiwa besar itu telah ditunggangi dan dimanfaatkan pihak ketiga.

    Mengenai penghilangan 13 warga yang diduga telah terbunuh atau dibunuh dan mayatnya tidak ditemukan hingga kini, operasi bermodus seperti itu hanya dapat dilakukan oleh tim khusus yang telah biasa melakukan perbuatan seperti sebelumnya. Itu sebabnya, penghilangan belasan korban itu dapat dilakukan secara “bersih dan sempurna” tanpa meninggalkan jejak yang dapat ditelusuri atau dijadikan bukti.

    Jika merujuk kepada para pelaku yang pernah berbuat hal yang sama atau melakukan operasi yang sama, dapat dipastikan pelakunya tidak jauh dari tim pelaku penembakan misterius (petrus) yang pernah marah sebelumnya dan kemudian diakui sebagai hasil karya tim pasukan di bawah komando Benny Moerdani.

    Mencermati waktu pelaksanaan penghilangan para korban yang sengaja dikesankan seolah – olah terkait dengan Tim Mawar, dapat dipastikan pelaku penghilangan 13 orang warga, memiliki akses terhadap informasi rahasia yang sebenarnya sudah ditutup rapat oleh Tim Mawar Kopassus.

    Satu–satunya kebocoran informasi penculikan Tim Mawar adalah pada saat penculikan Andi Arief, yang kepergok polisi saat bergegas masuk ferry penyeberangan di Bakauheni, Lampung pada 28 Maret 1998. Dua hari setelah itu 30 Maret 1998, dua aktifis mahasiswa asal Unair Surabaya Petrus Bimo Anugerah dan Herman Hendarwan, tiba – tiba menghilang setelah berkunjung ke LBH Jakarta. Penculikan dan penghilangan Petrus dan Herman selang dua hari terpergoknya Tim Mawar di Lampung, adalah petunjuk kuat bahwa ada pihak ketiga yang mengail ikal di air keruh dengan maksud menjadikan Tim Mawar sebagai tertuduh pelaku penghilangan Petrus dan Herman.

    Serangan fitnah terhadap Tim Mawar sebagai terduga pelaku hilangnya 13 warga diperkuat dengan pembentukan opini publik dan tekanan dari berbagai tokoh dan LSM, khususnya Tokoh dan LSM yang selama ini dikenal sebagai pembela HAM, pejuang demokrasi dan pro asing.

    LSM dan tokoh – tokoh yang bersuara lantang menuduh Tim Mawar Kopassus itu, di kemudian hari terbukti adalah para agen asing atau agen Konspirasi Global yang melancarkan Asymmetric Warfare Strategy (AWS) terhadap Indonesia.

    Kemesraan Islam – Pak Harto periode 1990 – 1998 atau disebut juga sebagai periode kebangkitan Islam Indonesia. Kebangkitan Islam RI itu hanya bertahan 8 tahun, dan berakhir ketika Presiden Suharto mengundurkan diri, digantikan BJ Habibie dengan situasi kondisi negara kacau balau paska kerusuhan besar dan gejolak politik nasional.

    Terbukti ada skenario besar dilancarkan untuk menjatuhkan Presiden Suharto dengan memanfaatkan sejumlah isu dan gejolak seperti krisis moneter, penculikan, berbagai kerusuhan di tanah air, isu SARA dan HAM, Huruhara besar Mei 1998. Apakah “penumpang gelap” pelaku kerusuhan dan huru hara Mei 1998 sama dengan “penumpang gelap” yang menjadi pelaku penghilangan 13 warga, belum diketahui pasti. Petunjuk dan bukti yang diperoleh belum cukup untuk menyebut nama atau kelompok yang seharusnya bertanggung jawab atas kejahatan kemanusian berat itu.


      Waktu sekarang Sat Jan 20, 2018 3:19 am