Berbagi Kabar & Info Disini - Follow Twitter @spiritualz_ dan @kabaena_

INFO UNTUK ANDA

Forum ini ada di Facebook

Share via Twitter

Follow Me : @kabaena_

Image hosted by servimg.com

Instagram Kabaena

Instagram

Kabaena Mailing List

Masukan Email Kamu:

Ngobrol Via Twitter

Latest topics

Your Space

LIVE STREAMING TV

Live Streaming

Online Radio Live

Radio Online

    Sejarah Kelam Pembantaian Pecinan Glodok Tahun 1740

    Share
    avatar
    vani

    Jumlah posting : 345
    Join date : 24.09.11

    Sejarah Kelam Pembantaian Pecinan Glodok Tahun 1740

    Post  vani on Tue Apr 15, 2014 9:18 am

    Pogrom adalah adalah istilah serangan penuh kekerasan besar-besaran yang terorganisasi atas sebuah kelompok tertentu, etnis, keagamaan, atau lainnya, yang dibarengi oleh penghancuran terhadap lingkungannya (rumah, tempat usaha, pusat-pusat keagamaan, dll.)

    Kekerasan dalam batas kota Batavia ini berlangsung dari 9 Oktober hingga 22 Oktober 1740, sedangkan berbagai pertempuran kecil terjadi hingga akhir November di tahun yang sama.


    Keresahan dalam masyarakat Tionghoa dipicu oleh represi pemerintah dan berkurangnya pendapatan akibat jatuhnya harga gula yang terjadi menjelang pembantaian ini.

    Untuk menanggapi keresahan tersebut, pada sebuah pertemuan Dewan Hindia (Raad van Indië), badan pemimpin Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), Guberner-Jenderal Adriaan Valckenier menyatakan bahwa kerusuhan apapun dapat ditanggapi dengan kekerasan mematikan.

    Pernyataan Valckenier tersebut diberlakukan pada tanggal 7 Oktober 1740 setelah ratusan orang keturunan Tionghoa, banyak di antaranya buruh di pabrik gula, membunuh 50 pasukan Belanda. Penguasa Belanda mengirim pasukan tambahan, yang mengambil semua senjata dari warga Tionghoa dan memberlakukan jam malam.

    Dua hari kemudian, setelah ditakutkan oleh isyu dan desas-desus tentang kekejaman etnis Tionghoa, kelompok etnis lain di Batavia mulai membakar rumah orang Tionghoa di sepanjang Kali Besar.

    Gubernur Jenderal Valckenier memerintahkan agar orang Tionghoa dibunuh. (wikipedia)

    Sementara itu, pasukan Belanda menyerang rumah orang Tionghoa dengan meriam.

    Kekerasan ini dengan cepat menyebar di seluruh kota Batavia sehingga lebih banyak orang Tionghoa dibunuh.


    Meski Valckenier mengumumkan bahwa ada pengampunan untuk orang Tionghoa pada tanggal 11 Oktober, kelompok pasukan tetap terus memburu dan membunuh orang Tionghoa hingga tanggal 22 Oktober, saat Valckenier dengan tegas menyatakan bahwa pembunuhan harus dihentikan.

    Di luar batas kota, pasukan Belanda terus bertempur dengan buruh pabrik gula yang berbuat rusuh. Setelah beberapa minggu penuh pertempuran kecil, pasukan Belanda menyerang markas Tionghoa di berbagai pabrik gula. Orang Tionghoa yang selamat mengungsi ke Bekasi.

    Diperkirakan bahwa lebih dari 10.000 orang keturunan Tionghoa dibantai. Jumlah orang yang selamat tidak pasti, ada dugaan dari 600 sampai 3.000 yang selamat.

    Pada tahun berikutnya, terjadi berbagai pembantaian di seluruh pulau Jawa. Hal ini memicu suatu perang selama dua tahun atau yang dikenal dengan “Perang Jawa (1741–1743)” , dengan tentara gabungan Tionghoa dan Jawa melawan pasukan Belanda.

    Setelah itu, Valckenier dipanggil kembali ke Belanda dan dituntut atas keterlibatannya dalam pembantaian ini, Gustaaf Willem van Imhoff menggantikannya sebagai gubernur jenderal. Hingga zaman modern, pembantaian ini kerap ditemukan dalam sastra Belanda. Pembantaian ini mungkin juga menjadi asal nama beberapa daerah di Jakarta.

    Perang Jawa atau juga disebut “Perang Tionghoa” terjadi dari tahun 1741 hingga 1743, adalah konflik bersenjata antara gabungan tentara Tionghoa dengan Jawa melawan pemerintah kolonial Belanda yang meletus di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

    Belanda berhasil memenangkan perang ini, yang mengakibatkan jatuhnya Kesultanan Mataram dan secara tidak langsung mengarah ke pendirian Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta.

    Setelah tentara Belanda membantai 10.000 orang Tionghoa di Batavia (sekarang Jakarta), beberapa orang yang selamat yang dipimpin oleh Khe Pandjang pergi ke Semarang.

    Meskipun telah diperingati bahwa pemberontakan akan segera meletus, kepala militer VOC atau Vereenigde Oostindische Compagnie, Bartholomeus Visscher mengabaikan nasihat yang masuk dan tidak menyiapkan bala bantuan.


    Mataram terbagi pada tahun 1830, setelah Perang Jawa.
    (The divided Mataram in 1830, after the Java War)

    Akibatnya, Sunan Mataram Pakubuwono II memilih untuk mendukung orang Tionghoa, sementara berpura-pura membantu orang Belanda.

    Setelah korban pertama berjatuhan pada 1 Februari 1741 di kota Pati, pemberontakan menyebar ke seluruh Jawa Tengah.

    Orang Jawa turut membantu orang Tionghoa dengan berpura-pura bertempur melawan orang Tionghoa tersebut, agar orang Belanda mengira bahwa mereka didukung orang Jawa.

    Tipuan menjadi semakin jelas dan tentara Tionghoa terus mendekati Semarang. Setelah merebut Rembang, Tanjung, dan Jepara, tentara gabungan mengepung Semarang pada Juni 1741.

    Visscher kemudian memerintahkan untuk menghabisi semua orang Tionghoa di Jawa. Pangeran Cakraningrat IV dari Madura menawarkan bantuan, dan dari Madura ke arah barat ia membantai semua orang Tionghoa yang dapat ditemui dan memadamkan pemberontakan di Jawa Timur.

    Pada akhir tahun 1741, pengepungan kota Semarang berhasil dipatahkan setelah tentara Pakubuwono II melarikan diri karena tentara Belanda memiliki senjata api yang lebih kuat.

    Kampanye militer Belanda selama tahun 1742 memaksa Pakubuwono II untuk menyerah, namun beberapa pangeran Jawa ingin meneruskan perang, sehingga pada 6 April Pakubuwono II tidak diakui oleh para pemberontak dan keponakannya, Raden Mas Garendi, dipilih sebagai penggantinya.

    Begitu Belanda berhasil merebut kembali semua kota di pantai utara Jawa, para pemberontak menyerang ibukota Pakubuwono II di Kartosuro, sehingga ia terpaksa melarikan diri bersama keluarganya.

    Cakraningrat IV merebut kembali kota tersebut pada Desember 1742, dan pada awal 1743 pemberontak Tionghoa terakhir telah menyerah. Setelah perang ini berakhir, orang Belanda semakin menancapkan kekuasaannya Jawa melalui perjanjian dengan Pakubuwono II.

    Latar Belakang Kejadian “Geger Pacinan” (Pembantaian Glodok)

    Kembali ke tragedi Pembataian Glodok atau Geger Pacinan, pada periode awal kolonialisasi Hindia-Belanda oleh Belanda, banyak orang keturunan Tionghoa dijadikan tukang dalam pembangunan kota Batavia di pesisir barat laut pulau Jawa. Mereka juga bertugas sebagai pedagang, buruh di pabrik gula, serta pemilik toko.


    Perdagangan antara Hindia-Belanda dan Tiongkok, yang berpusat di Batavia, menguatkan ekonomi dan meningkatkan imigrasi orang Tionghoa ke Jawa. Jumlah orang Tionghoa di Batavia meningkat pesat, sehingga pada tahun 1740 ada lebih dari 10.000 orang. Ribuan lagi tinggal di luar batas kota.

    Pemerintah kolonial Belanda mewajibkan mereka membawa surat identifikasi, dan orang yang tidak mempunyai surat tersebut dipulangkan ke Tiongkok. Kebijakan deportasi ini diketatkan pada dasawarsa 1730-an, setelah pecahnya epidemik malaria yang membunuh ribuan orang, termasuk Gubernur Jenderal Dirk van Cloon.


    Menurut sejarawan Indonesia Benny G. Setiono, epidemik ini diikuti oleh meningkatnya rasa curiga dan dendam terhadap etnis Tionghoa yang jumlahnya semakin banyak dan kekayaan yang semakin menonjol.

    Akibatnya, Komisaris Urusan Orang Pribumi, Roy Ferdinand, di bawah perintah Gubernur Jenderal Adriaan Valckenier, memutuskan pada tanggal 25 Juli 1740 bahwa warga keturunan Tionghoa yang mencurigakan akan dideportasi ke Zeylan (kini Sri Lanka) dan dipaksa menjadi petani kayu manis.


    Warga keturunan Tionghoa yang kaya diperas penguasa Belanda, yang mengancam mereka dengan deportasi. Stamford Raffles, seorang penjelajah asal Inggris dan ahli sejarah pulau Jawa, mencatat bahwa orang Belanda diberi tahu Kapitan Cina (pemimpin etnis Tionghoa yang ditentukan Belanda) untuk Batavia, Ni Hoe Kong, agar mendeportasikan semua orang Tionghoa berpakaian hitam atau biru, sebab merekalah yang miskin.

    Peristiwa Pembantaian

    Setelah berbagai kelompok buruh pabrik gula keturunan Tionghoa memberontak, dengan menggunakan senjata yang dibuat sendiri untuk menjarah dan membakar pabrik, ratusan orang Tionghoa yang diduga dipimpin Kapitan Cina Ni Hoe Kong membunuh 50 pasukan Belanda di Meester Cornelis (kini Jatinegara) dan Tanah Abang pada tanggal 7 Oktober.

    Untuk menanggapi serangan ini, pemimpin Belanda mengirim 1.800 pasukan tetap yang ditemani schutterij (milisi) dan sebelas batalyon wajib militer untuk menghentikan pemberontakan. Mereka melaksanakan jam malam dan membatalkan perayaan Tionghoa yang sudah dijadwalkan.

    Karena takut bahwa orang Tionghoa akan berkomplot pada malam hari, yang tinggal di dalam batas kota dilarang menyalakan lilin dan disuruh menyerahkan semua barang, hingga pisau paling kecil sekalipun.


    Pada hari berikutnya, pasukan Belanda berhasil menangkis suatu serangan dari hampir 10.000 orang Tionghoa, yang dipimpin oleh kelompok dari Tangerang dan Bekasi, di tembok kota, Raffles mencatat sebanyak 1.789 warga keturunan Tionghoa meninggal dalam serangan ini. Untuk menanggapi serangan ini, Valckenier kembali mengadakan pertemuan Dewan Hindia pada tanggal 9 Oktober.

    Pasca Tragedi “Geger Pacinan”


    Sebagian besar sejarawan mencatat sebanyak 10.000 orang Tionghoa yang berada di dalam kota Batavia dibunuh, dan 500 lagi mengalami luka berat. Antara 600 dan 700 rumah milik orang Tionghoa dijarah dan dibakar.

    Vermeulen mencatat 600 orang Tionghoa yang selamat,sementara sejarawan Indonesia A.R.T. Kemasang mencatat 3.000 orang yang selamat. Sejarawan Tionghoa-Indonesia Benny G. Setiono mencatat bahwa sebanyak 500 tahanan dan pasien rumah sakit dibunuh dengan jumlah orang yang selamat sebanyak 3.431.

    Pembantaian ini disusul oleh periode yang rawan pembantaian terhadap warga keturunan Tionghoa di seluruh pulau Jawa, termasuk satu pembataian lagi di Semarang pada tahun 1741, dan beberapa pembantaian lain di Surabaya dan Gresik.

    Sebagai salah satu syarat untuk berakhirnya kekerasan, yakni semua penduduk Batavia keturunan Tionghoa dipindahkan ke suatu pecinan di luar batas kota Batavia, yang kini menjadi Glodok. Hal ini membuat orang Belanda lebih mudah mengawasi orang Tionghoa.

    Untuk meninggalkan pecinan, orang Tionghoa membutuhkan tiket khusus. Namun, pada tahun 1743, sudah ada ratusan pedagang keturunan Tionghoa yang bertempat di dalam kota Batavia.


    Perang Jawa di Semarang 1741, Antara Jawa dan Tionghoa dipemukiman mereka (tampak di wilayah kiri) melawan Belanda atau VOC (tampak di wilayah kanan).

    Orang Tionghoa lain dipimpin oleh Khe Pandjang mengungsi ke Jawa Tengah, di mana mereka menyerang berbagai pos perdagangan Belanda dan bergabung dengan pasukan di bawah pimpinan Sultan Mataram, Pakubuwana II. Meskipun perang ini sudah selesai pada tahun 1743, namun selama 17 tahun terdapat konflik di Jawa secara terus-menerus.

    Spoiler:
    ~ indocropcircles.wordpress.com


      Waktu sekarang Sat Jan 20, 2018 3:09 am