Berbagi Kabar & Info Disini - Follow Twitter @spiritualz_ dan @kabaena_

INFO UNTUK ANDA

Forum ini ada di Facebook

Share via Twitter

Follow Me : @kabaena_

Image hosted by servimg.com

Instagram Kabaena

Instagram

Kabaena Mailing List

Masukan Email Kamu:

Ngobrol Via Twitter

Latest topics

Your Space

LIVE STREAMING TV

Live Streaming

Online Radio Live

Radio Online

    Tempat Penitipan Suami

    Share
    avatar
    vani

    Jumlah posting : 345
    Join date : 24.09.11

    Tempat Penitipan Suami

    Post  vani on Tue Sep 24, 2013 9:08 am

    Kebanyakan wanita memang cerewet. Sebagai wanita tulen, tak malu saya mengakuinya. Tapi jangan lupa juga lho, kebanyakan pria adalah pelit.

    Saya tak mau menunjuk hidung siapapun, apalagi hidung belang yang suka mengendus wewangian dari ketiak perempuan murahan. Saya mau ambil contoh suami saya sendiri.

    Kemarin kami pergi ke sebuah mall. Setelah saya sembur dengan berbagai omelan, mau juga dia merogoh dompetnya. Saya kuatir dia akan mengacungkan KTP seperti biasanya. Oh, ternyata tidak. Kali ini kartu ATM yang dikeluarkannya. Sebuah keganjilan yang tentu saja dipantau oleh saksi hidup seperti semut dan cicak.

    “Pakai saja ATM-ku, tapi jangan ambil banyak-banyak,” kata dia, dengan tangan mencengkram HP kuat-kuat, seakan-akan benda itu akan diremukkannya.

    “Terima kasih,” ujarku, “Kamu mau titip apa?”

    Boro-boro menjawab pertanyaan saya, dia malah melengos. Pandangan matanya segera membidik pemandangan di sebelah sana. Seorang penjaga stand tampak sedang kerepotan membenahi celananya yang agak melorot. Suami saya tak menyia-siakan momen itu. Wajarlah kalau kemudian saya meraih sepatu hak tinggi saya dan mengayunkan ke pelipisnya.

    Dia meringis kesakitan, namun saya tak peduli. Saya seret dia menuju stand yang khusus menjajakan pakaian wanita. Semua orang terbelalak menatapnya. Suami saya rupanya malu juga. Dia ingin berontak, tapi tangan saya memborgolnya. Dia ingin teriak, tapi jemari saya segera mencekiknya.

    “Diam atau kucabuti kumismu satu per satu!”

    Saya gertak begitu, seketika dia tak berkutik. Wajahnya ditekuk. Dua tangan dilipatnya dan ditempelkannya persis di selangkangan. Kakinya berdiri rapat. Saya perhatikan, suami saya persis seperti patung. Oh, bukan patung, tapi monumen, tepatnya monumen kemenangan kaum istri atas kaum suami. Yeah…

    Agar tidak mengganggu orang-orang, saya sepak pantat suami saya, dan bergeserlah dia di pojok stand. Saya cek hidungnya. Nafasnya masih ada. Syukurlah, saya tak perlu was-was, kecuali bila kentutnya tiba-tiba menyemprot tanpa bisa saya kontrol.

    Soal kentut saya urus belakangan. Saya fokus ke shopping saja. Tangan saya segera menggapai sebuah baju. Modelnya sih bagus, tapi harganya kok hanya 500 ribu. Murah amat. Bang Amat saja nggak suka yang murahan, apalagi saya.

    Sebuah rok saya renggut. Duh, sayang sekali, harganya sih cukup oke, hanya 750ribu, tapi ukurannya kepanjangan. Buat saya, small is beautiful. Semakin minimal ukuran rok, semakin maksimal penampilan saya.

    Sembari celingak-celinguk pilih pakaian yang pas, saya lirik suami saya. Kok dia tidak tidak ada di tempat? Ke mana perginya?

    “Mbak, lihat suami saya?” tanya saya kepada seorang penjaga stand.

    “Maaf, sebelumnya, perlu kami sampaikan bahwa kami tidak mengizinkan ada pengunjung yang membawa patung di sini.”

    “Bukan patung, Mbak, tapi monument!”

    “Oya, termasuk monument juga kami larang.”

    “Terus, suami saya sekarang ada di mana?”

    “Dia sekarang kami taruh di tempat penitipan suami. Kami jamin kondisinya aman terjaga. Tak perlu kuatir.”

    “Syukurlah kalau begitu.”

    Demi memastikan kondisi suami saya, saya masuk ke tempat yang dimaksud. Tempat itu terdiri dari beberapa kamar berukuran sekitar 2 x 3 meter. Kalau tidak salah hitung, ada 24 kamar. Suami saya berada di kamar 21. Saya buka pintu kamarnya yang tak terkunci dan tampak suami saya sedang tidur tengkurap, dengan dua tangan menggerayangi pahanya sendiri.

    “Tempat penitipan ini gratis, kan?” saya kembali ke penjaga stand.

    “Ada tarifnya, Jeng. Murah kok. Cuma 20 ribu per jam.”

    “Apa? 20 ribu per jam?!”

    Heran saya. Tempat begini saja mahalnya minta ampun. Dasar para kapitalis matre. Maunya ngambil untung besar melulu.

    “Jeng, kok bengong sih?”

    “Habis, situ tega amat sih. Mbok ya orang kayak saya dikasih harga khusus.”

    “Lho, Jeng kan orang kaya?”

    “Siapa bilang? Memang sih penampilan saya trendi, tapi suami saya kan cuma sopir bajaj.”

    “O….”


    - kompasiana


      Waktu sekarang Sat Jan 20, 2018 2:57 am