Berbagi Kabar & Info Disini - Follow Twitter @kabaena_

INFO UNTUK ANDA

Forum ini ada di Facebook

Share via Twitter

Follow Me : @kabaena_

Image hosted by servimg.com

Instagram Kabaena

Instagram

Kabaena Mailing List

Masukan Email Kamu:

Ngobrol Via Twitter

Your Space

LIVE STREAMING TV

Live Streaming

Online Radio Live

Radio Online

    75% Kekerasan Saat Pacaran akan Berlanjut di Rumah Tangga

    Share
    avatar
    tangkeno

    Jumlah posting : 102
    Join date : 05.01.13

    75% Kekerasan Saat Pacaran akan Berlanjut di Rumah Tangga

    Post  tangkeno on Sat Mar 02, 2013 7:57 am


    Banyak wanita yang kini menjadi korban kekerasan saat masih pacaran. Ternyata hal itu sangat berpotensi menimbulkan KDRT setelah menikah dengan kekasih yang melakukan kekerasan tersebut. Kemungkinan terjadinya KDRT cukup tinggi hingga mencapai 75 persen.

    Ketika wolipop mewawancarai Sri Nurherwati selaku Ketua Sub Komisi Pemulihan dari Komnas Perempuan, ia mengatakan bahwa memang kekerasan yang terjadi setelah menikah bisa berawal dari pacaran.

    "75 persen lah, tinggi ya, kekerasan dalam rumah tangga diawali dengan kekerasan dalam pacaran. Di situ sinyal merah yang harus dipahami oleh perempuan untuk tidak memaksakan (hubungan)," jelas wanita yang biasa dipanggil Nurherwati saat berbincang dengan wolly di Komnas Perempuan.

    Namun masih ada wanita yang kerapkali bertahan dalam hubungan tak sehat karena adanya kekerasan, baik secara fisik, mental, maupun seksual. Nurherwati menambahkan, mereka yang memilih bertahan kebanyakan karena telah melakukan hubungan seksual sehingga merasa terpaksa harus tetap pada hubungan itu dan membuat pasangan semakin berkuasa atas dirinya.

    Hal itu tentu bukanlah pilihan yang menguntungkan. "Situasi dan kondisi yang membuat dia harus mengambil keputusan yang tidak menguntungkan. Bukan pilihan yang merdeka sebenarnya, mungkin terlanjur hamil, ada anak, atau terlanjur aborsi," paparnya kemudian.

    Psikolog ternama Kasandra Putranto juga menjelaskan, wanita punya ketakutan sendiri mengenai suatu hal. Mereka belajar rasa takut yang tidak beralasan, misalnya takut sendirian atau takut tidak memiliki uang sehingga tidak ada yang membiayainya lagi jika berpisah dengan pasangan.

    "Umumnya ada satu kondisi ada satu persepsi tentang takut. Banyak perempuan belajar rasa takut yang tidak beralasan, misalnya takut sendirian, takut belaku tidak baik, atau ketergantungan financial," ujar Kasandra, seorang Psikolog Klinis dan Forensik kepada wolipop beberapa waktu lalu di kediamannya, kawasan Cipete, Jakarta.






      Waktu sekarang Wed Apr 26, 2017 2:02 pm