Berbagi Kabar & Info Disini - Follow Twitter @kabaena_

INFO UNTUK ANDA

Forum ini ada di Facebook

Share via Twitter

Follow Me : @kabaena_

Image hosted by servimg.com

Instagram Kabaena

Instagram

Kabaena Mailing List

Masukan Email Kamu:

Ngobrol Via Twitter

Latest topics

» HAMMER OF THOR | OBAT KUAT PEMBESAR PENIS | PIN BBM D3BF2124
Fri Nov 25, 2016 1:51 am by kiosonlineshop

» rahasia kuat diranjang
Fri Nov 25, 2016 1:45 am by kiosonlineshop

» CARA CEPAT MENGHILANGKAN TATO PERMANEN PADA TUBUH
Fri Nov 25, 2016 1:44 am by kiosonlineshop

» tips cepat untuk memutihkan kulit badan
Fri Nov 25, 2016 1:43 am by kiosonlineshop

» HDD External New
Tue Nov 22, 2016 4:46 pm by dodolan

» Jejak Sejarah Kerajaan Kotu’a
Sun Nov 13, 2016 11:22 pm by ganz

» Danau Berubah Warna, Keajaiban Alam dari Tomohon
Sat Nov 12, 2016 2:16 pm by kambose

» Tuhan dan Polisi
Sun Nov 06, 2016 10:12 pm by kambose

» Suku Kaili - Sulawesi Tengah
Sat Nov 05, 2016 5:01 pm by vani

LIVE STREAMING TV

Live Streaming

Online Radio Live

Radio Online

    Obat Baru untuk Menghentikan Kecanduan Heroin dan Morfin

    Share

    sangia

    Jumlah posting : 619
    Join date : 18.02.11

    Obat Baru untuk Menghentikan Kecanduan Heroin dan Morfin

    Post  sangia on Thu Aug 23, 2012 2:23 pm


    Meski awalnya dipakai untuk mengobati nyeri biasa atau depresi, orang-orang yang kadung terjebak dalam penggunaan obat-obatan opioid (pereda nyeri) seperti heroin dan morfin umumnya kesulitan untuk menghentikan konsumsi barang tersebut.

    Hal inilah yang mendorong terjadinya penyalahgunaan obat-obatan dan menimbulkan efek samping negatif yang luar biasa seperti kecanduan berat dan kematian akibat overdosis.

    Namun para ilmuwan telah berhasil menemukan cara baru untuk menghentikan kecanduan terhadap heroin dan morfin, namun tak kehilangan manfaatnya sebagai pereda nyeri.

    Tim peneliti dari University of Adelaide dan University of Colorado telah berhasil menemukan mekanisme kunci dari sistem kekebalan tubuh yang dapat memperkuat tingkat kecanduan seseorang terhadap obat-obatan opioid.

    Bahkan studi ini juga menemukan obat yang sebenarnya sudah lama ditemukan namun ternyata mampu menghambat respons sistem kekebalan tubuh terhadap kecanduan secara selektif yaitu (+)-naloxone.

    Temuan ini tentu dapat menepis pesimisme pecandu yang ingin berhenti menggunakan narkotika dan masyarakat yang pada umumnya percaya kondisi kecanduan semacam ini sangat sulit untuk diobati.

    "Studi ini telah menunjukkan bahwa kami dapat menghentikan kecanduan obat melalui sistem kekebalan otak tanpa mempengaruhi otak itu sendiri," ujar ketua tim peneliti, Dr. Mark Hutchinson, ARC Research Fellow di School of Medical Sciences, University of Adelaide.

    "Baik sistem saraf pusat maupun kekebalan tubuh sebenarnya memainkan peranan penting dalam menciptakan kondisi kecanduan, namun studi ini menunjukkan bahwa kita hanya perlu memblokir respons kekebalan di dalam otak untuk mencegah kecanduan terhadap obat-obatan opioid," lanjutnya.

    Lalu peneliti memfokuskan penelitiannya pada reseptor kekebalan yang dikenal sebagai Toll-Like Receptor 4 (TLR4). "Obat-obatan opioid seperti morfin dan heroin terikat pada TLR4 sama halnya dengan respons kekebalan normal yang terikat pada sejumlah bakteri. Masalahnya, TLR4 ini akan bertindak sebagai penguat kecanduan itu sendiri," terang Dr. Hutchinson.

    "Dari sini kami tahu jika (+)-naloxone dapat menghentikan kecanduan secara otomatis, termasuk mematikan kebutuhan untuk mengonsumsi opioid, menghentikan perilaku yang berkaitan dengan kecanduan dan mendorong otak untuk tak lagi menghasilkan dopamine, senyawa kimia yang berfungsi menyediakan sensasi 'reward' dari opioid," tambahnya seperti dilansir dari health24.

    Obat yang digunakan untuk menghentikan kecanduan, (+)-naloxone sebenarnya diciptakan oleh Dr. Kenner Rice pada tahun 1970-an. Namun baru kali ini ilmuwan percaya (+)-naloxone akan sangat bermanfaat jika diformulasikan bersama morfin sehingga pasien yang memerlukan pereda nyeri akut takkan menjadi kecanduan terhadap obat-obatan opioid karena mengonsumsi morfin namun masih mendapatkan manfaat dari pereda nyerinya.

    Jika memungkinkan, peneliti juga mengungkapkan bahwa percobaan klinisnya akan segera digelar dalam 18 bulan ke depan.



      Waktu sekarang Sun Dec 04, 2016 7:50 am