Berbagi Kabar & Info Disini - Follow Twitter @spiritualz_ dan @kabaena_

INFO UNTUK ANDA

Forum ini ada di Facebook

Share via Twitter

Follow Me : @kabaena_

Image hosted by servimg.com

Instagram Kabaena

Instagram

Kabaena Mailing List

Masukan Email Kamu:

Ngobrol Via Twitter

Latest topics

» 4 Olahraga ekstrem ini bisa kamu lakukan di Indonesia
Thu Apr 12, 2018 11:55 am by kabaena

» HDD External New
Wed Apr 04, 2018 2:59 am by dodolan

» Libero dalam Voli
Tue Apr 03, 2018 2:43 pm by kabaena

» Pisang Goroho Digoreng 'Telanjang', Aduh Enaknya!
Sat Mar 17, 2018 12:45 pm by nic

» Menolak Hadiah Rp 399 Juta dari Easy Shopping
Mon Mar 12, 2018 10:12 am by vani

» Merancang perjalanan - Itinerary
Fri Mar 09, 2018 1:44 pm by vani

»  Startup ini Bangun Rumah Menggunakan Printer 3 Dimensi!
Sun Feb 25, 2018 2:52 pm by wulele_waru

» Agen Madu Hitam Pahit Premium Bandung Murah
Thu Feb 22, 2018 7:10 pm by riyadiyo

» Mengapa kelelawar tidur terbalik?
Mon Feb 19, 2018 10:05 am by ganz

Your Space

LIVE STREAMING TV

Live Streaming

Online Radio Live

Radio Online

    Bahan Kimia Pada Kemasan Plastik Bisa Picu Obesitas

    Share
    avatar
    liana

    Jumlah posting : 1168
    Join date : 01.12.09

    Bahan Kimia Pada Kemasan Plastik Bisa Picu Obesitas

    Post  liana on Thu Feb 23, 2012 8:59 am

    Bahan Kimia Pada Kemasan Plastik Bisa Picu Obesitas



    Makanan cepat saji serta gaya hidup buruk seringkali menjadi 'tersangka utama' pada kasus obesitas. Namun kini ada faktor lain yang bisa meningkatkan risiko terkena obesitas. Apakah itu?

    Zat kimia yang digunakan dalam membuat kemasan plastik, serngkali dikaitkan dengan risiko kanker dan bahkan diberi label zat beracun di Kanada. Kini zat tersebut juga diketahui juga berkaitan dengan kenaikan berat badan serta diabetes.

    Zat itu adalah bisphenol A (BPA), bahan kimia yang umum digunakan untuk membuat botol plastik. Seperti dikutip dari detikhealth, BPA merupakan endocrine disruptor yang dapat mempengaruhi aktivitas hormon normal di dalam tubuh.

    Sebuah laporan yang diterbitkan pekan lalu menunjukkan bahwa BPA bisa 'menipu' tubuh untuk meningkatkan lebih banyak lemak. Selain itu, BPA juga dapat membuat bertambahnya produksi insulin (cara tubuh mengatur lemak dan karbohidrat). Jika terlalu banyak insulin, tubuh menjadi 'kebal' terhadap dampaknya, yaitu kenaikan berat badan dan diabetes tipe 2.

    Angel Nadal, seorang ahli BPA di Miguel Hernendez University, Spanyol mengatakan," Ketika Anda memakan sesuatu dengan BPA, itu akan memberitahu organ bahwa Anda memakan lebih banyak daripada yang Anda makan."

    Dikutip dari DailyMail, dalam penelitannya yang terbaru ia menemukan bahwa BPA dapat mempengaruhi pankreas, organ yang menciptakan insulin. Sedikit paparan zat kimia tersebut dapat memicu pelepasan hampir dua kali lipat insulin dari yang sebenarnya dibutuhkan untuk memecah makanan.

    Penelitian lain juga menunjukkan adanya kaitan erat antara BPA dengan obesitas. Penelitian tersebut menggunakan data dari studi kesehatan federal antara tahun 2003-2008. Peneliti melibatkan hampir 4.000 orang dewasa dan diketahui partisipan yang memiliki tingkat BPA tinggi di urine cenderung memiliki diabetes.

    Para peneliti juga menganalisis sejumlah faktor lain dalam risiko diabetes seperti berat badan, usia dan juga ras. Diketahui orang-orang dengan tingkat BPA tinggi memiliki risiko 68 persen lebih besar terkena diabetes dibanding dengan yang tingkat BPAnya rendah.

    Mekanisme dari pengaruh BPA terhadap risiko diabetes memang belum jelas. Tapi hasil penelitian laboratorium menunjukkan bahwa BPA bisa bertindak seperti hormon di dalam tubuh. Selain itu BPA diperkirakan bisa mempromosikan terjadinya peradangan yang terkait dengan diabetes dan juga berbagai penyakit kronis lainnya.

    "Diperlukan studi lebih lanjut untuk mengukur kadar BPA yang bisa mengembangkan diabetes dan berapa lama waktu yang dibutuhkannya," ujar Dr Anoop Shankar dari West Virginia University School of Medicine, seperti dikutip dari Foxnews.



      Waktu sekarang Sun Apr 22, 2018 8:48 am